Kemana Perginya Rindu?





Apakah kamu masih ingat? Aku pernah menceritakan seseorang. Seseorang yang lebih indah dari siapapun. Keindahannya membuat semut-semut kehilangan arah dan tak lagi baris dengan semestinya. Ya, dia memang mempesona. Kamu tak perlu iri, aku yakin dia pasti mau membagikan rahasianya padamu jika kamu meminta. Dia tak sesombong yang kau pikir. Dia mudah bergaul dan baik hati, juga salah satu orang terbaik yang pernah ku kenal. Setidaknya seperti itulah dia saat terakhir kali kami bertemu.

Sayangnya sudah sekian tahun jarak memisahkan kami. Harusnya ini tak semenyakitkan yang aku pikir. Hanya saja perpisahan tanpa pesan membuat semuanya semakin buruk. Hampir setiap malam aku menerka apa yang sedang dilakukannya. Hingga waktu membuat semua rasa penasaran tanpa jawaban terasa membosankan. Perlahan bayangan wajahnya mulai memudar dan kemudian menghilang.





Hingga pada malam itu, tiba-tiba saja aku teringat kembali saat-saat yang pernah kami lewati. Aku begitu bersemangat pada setiap cerita yang terangkai. Segaris senyum pada bibir akhirnya muncul. Semakin dalam aku menatap langit-langit kamar.Aku tersadar, aku sedang merindukannya.



 

Aku merindukan  setiap celotehnya

Aku merindukan kata-kata orang tentang kami yang selalu membuatku ingin tersenyum

Aku merindukan chat sederhana dengannya

Aku merindukan senyumnya

Aku merindukan duduk didekatnya

Aku merindukan tawanya

Aku merindukan cara dia berpikir

Aku merindukan saat-saat kami bermain bersama

Aku merindukan setiap hal kecil yang kami lalui

Aku merindukan semua tentang dia

Aku merindukannya, sahabat kecilku.







Begitulah kiranya tentang dia. Aku yakin kamu sudah ingat, bukan? Dapatkah aku meminta sesuatu padamu? Aku hanya berharap  kamu dapat menyampaikan pesan ini padanya. Setidaknya biarkan dia bernostalgia lewat tulisanku. Apalagi bila ia sampai membalas tulisan ini, pastinya aku akan lebih bersyukur dan berterimakasih. Saat ini, kamulah satu-satunya harapanku. 



Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang. Tergoyang angin, menantikan tubuh itu.
         -payungteduh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar