Harap Cemas





Aku kembali menatap layar handphone untuk kesekian kalinya. Jemariku menekan beberapa tombol dan terangkailah kalimat. Namun dengan ragu kuhapus semuanya sambil menghela nafas. Mengapa sesulit ini?

Aku rindu saat-saat dimana kamu memulai pembicaraan. Pembicaraan singkat namun sering terjadi. Bukankah lebih dari satu itu banyak?

Kini ketika aku mulai menyukainya, kenapa kamu tak kunjung datang. Harusnya saat itu kamu tidak melakukannya, tidak membuatku berharap. Bagai daun gugur tertiup angin. Rela diajak melayang kemana saja dan akhirnya jatuh perlahan.

Akhirnya ku beranikan kembali mengetik kata-kata yang sudah kupikirkan matang-matang. Sambil mengucapkan bismillah begitu banyak, ku tekan tombol enter dihandphone. Ini bukan saatnya aku bisa lega. Oh tidak! Kenapa pending. Aku mencoba mencari kesibukan lain. Tidak lama, aku kembali memeriksa handphone. Sudah terkirim... dan sekarang bertuliskan “is writing a message”. Jantungku tak karuan. Hingga akhirnya kamu membalas dan kamipun melanjutkan topik yang kumulai lebih dulu. aku kembali menghela nafas.

Ya, memang selalu begitu setiap kali aku dan kamu berbincang. Andai sebuah lagu, jantungku tak memiliki irama. Begitu keras dan cepat. Tapi memang begitulah kenyataan.

Aku memang tidak punya pendirian. Kalau dia sudah menjauh, bukankah lebih baik aku diam? Tapi ini apa? Sama saja seperti sedang memancing. Kalau umpannya sudah dimakan, mau diapakan? Ditarik dan bawa pulang, atau dilepaskan saja?


“ikuti saja apa maunya hati. Hingga ia merasa lelah dan menemukan tempat untuk singgah"
–anna


Tidak ada komentar:

Posting Komentar